Oleh : Yohan Aksa )*
Pemerintah menegaskan optimisme bahwa peran aktif masyarakat akan menjadi faktor kunci dalam meningkatkan kesuksesan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program yang tengah diperluas cakupannya ini tidak hanya berfokus pada pemberian makanan bergizi kepada pelajar, tetapi juga mendorong keterlibatan seluruh elemen bangsa dalam memastikan distribusi, pengawasan, hingga kualitas layanan berjalan lebih efektif. Partisipasi masyarakat dinilai sebagai pilar penting yang mampu menguatkan pelaksanaan program di lapangan, terutama mengingat skala implementasi MBG yang sangat besar dan menjangkau jutaan pelajar di seluruh Indonesia.
Sekretaris Utama Badan Gizi Nasional (BGN), Sarwono mengatakan keberhasilan MBG tidak bisa hanya ditopang oleh kebijakan dan anggaran negara. Kolaborasi masyarakat mulai dari orang tua siswa, tokoh masyarakat, tenaga pendidik, komunitas lokal, hingga pelaku usaha memegang peranan strategis dalam memastikan mekanisme program berjalan sesuai tujuan. Masyarakat dapat memberikan masukan mengenai kualitas menu, kondisi distribusi, hingga memberikan laporan cepat apabila terjadi kendala. Semakin cepat informasi diterima, semakin cepat pula langkah perbaikan dapat dilakukan di lapangan.
Di sejumlah daerah, keterlibatan masyarakat mulai terlihat nyata melalui berbagai inisiatif spontan. Beberapa kelompok orang tua, misalnya, aktif membantu memastikan kebersihan wadah makan anak-anak serta komunitas lokal mendukung penyediaan bahan pangan lokal untuk dapur MBG di sekolah mereka. Dukungan semacam ini memberi dampak langsung terhadap kelancaran operasional, sekaligus menumbuhkan rasa kepemilikan kolektif bahwa MBG adalah program bersama yang harus dijaga dan diperkuat.
Sementara itu, Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang mengatakan BGN juga terus melakukan sosialisasi intensif agar masyarakat memahami pentingnya nutrisi seimbang bagi pertumbuhan anak. Edukasi mengenai pola makan bergizi, pentingnya protein hewani, serta risiko malnutrisi menjadi bagian dari upaya memperluas kesadaran publik. Dengan meningkatnya literasi gizi di masyarakat, diharapkan keluarga turut berkontribusi dalam memastikan anak-anak mendapatkan asupan yang sehat tidak hanya di sekolah, tetapi juga di rumah. Sinergi pola makan sekolah dan keluarga menjadi aspek yang tidak terpisahkan dalam memperkuat dampak positif MBG.
Program MBG juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di sekitar sekolah. Banyak dapur MBG yang bekerja sama dengan UMKM lokal, petani daerah, pedagang pasar, hingga penyedia bahan pangan setempat. Rantai pasok yang lebih pendek bukan hanya menekan biaya distribusi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi langsung kepada warga sekitar. Melalui model ini, MBG tidak sekadar menjadi program bantuan gizi, tetapi juga penggerak ekonomi lokal yang memberi multiplier effect bagi masyarakat.
Ketua DPC HIPMIKIMDO (Himpunan Pengusaha Mikro dan Kecil Indonesia) Kota Serang, Banten, Rini Damayanti mengatakan dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat dalam pengadaan bahan baku akan efektif meningkatkan kesuksesan program MBG. Keterlibatan petani lokal, pelaku UMKM, hingga komunitas perempuan di tingkat kelurahan bukan hanya memperkuat rantai pasok, tetapi juga memastikan bahwa kualitas bahan pangan tetap terjamin dan distribusinya lebih cepat. Model kolaboratif ini mampu menciptakan kemandirian pasokan sekaligus memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar, sehingga program MBG tidak hanya menyehatkan anak-anak, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal.
Dengan adanya pengawasan publik, setiap potensi penyimpangan dapat diminimalkan. Pemerintah mengajak masyarakat untuk ikut serta memastikan kualitas bahan makanan tetap layak konsumsi, proses memasak memenuhi standar kebersihan, dan distribusi makanan tepat waktu. Pengawasan partisipatif semacam ini diyakini mampu menciptakan suasana transparan dan memperluas kepercayaan publik terhadap pelaksanaan program MBG.
Ke depan, pemerintah meyakini bahwa partisipasi masyarakat akan terus meningkat seiring semakin solidnya pemahaman bahwa MBG adalah investasi jangka panjang bagi generasi muda Indonesia. Dengan dukungan aktif dari keluarga, komunitas, dan lingkungan sekolah, program ini diharapkan dapat berjalan lebih lancar, lebih adaptif, dan lebih inklusif. Pemerintah menyampaikan apresiasi kepada seluruh elemen masyarakat yang telah menjadi bagian dari keberhasilan tahap awal MBG, dan mengajak semua pihak untuk melanjutkan kolaborasi demi memastikan setiap anak Indonesia mendapatkan akses makanan sehat, bergizi, dan layak setiap hari sekolah. Program ini bukan hanya soal nutrisi, tetapi juga bentuk nyata komitmen bangsa dalam membangun sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Selain itu, pemerintah juga merencanakan penguatan mekanisme umpan balik berbasis komunitas sebagai bagian dari strategi peningkatan kualitas program MBG. Melalui forum warga, kanal digital pengaduan, hingga monitoring bersama antara sekolah, orang tua, dan kelompok masyarakat lokal, setiap kendala dapat diidentifikasi lebih cepat dan ditangani secara tepat. Pemerintah menilai bahwa pola kolaborasi semacam ini akan memperkuat rasa kepemilikan publik terhadap program, sekaligus memastikan bahwa implementasi MBG terus berkembang sesuai kebutuhan di lapangan. Dengan demikian, MBG tidak hanya menjadi program pemerintah, tetapi juga gerakan bersama yang tumbuh dari partisipasi aktif masyarakat di seluruh Indonesia.
)* Penulis merupakan pengamat sosial
