Jakarta – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan bahwa ketahanan pangan nasional tetap terjaga meskipun dunia menghadapi tekanan geopolitik, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi mengganggu jalur distribusi global seperti Selat Hormuz.
Dalam merespons situasi tersebut, pemerintah memperkuat langkah-langkah strategis guna mendorong swasembada pangan dan menjamin ketersediaan bahan pangan bagi seluruh masyarakat.
“Sekarang dunia mengalami geopolitik, terjadi perang, bahkan jika Selat Hormuz ditutup itu akan berdampak pada banyak negara. Alhamdulillah dari sisi pangan kita aman,” ungkap Amran.
Ia menilai, upaya menjaga stabilitas pangan menjadi elemen krusial dalam mewujudkan kedaulatan pangan, sekaligus menopang arah pembangunan menuju visi Indonesia Emas 2045 melalui agenda Asta Cita. Ia juga menekankan bahwa koordinasi lintas sektor terus diperkuat, terutama menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah, agar kebutuhan pangan masyarakat tetap terpenuhi dengan baik.
Amran juga mendukung kebijakan Presiden Prabowo yang sangat berpihak kepada petani. Salah satu kebijakan itu ialah menurunkan harga pupuk hingga 20 persen. Hal ini menjadi langkah penting dalam membantu petani meningkatkan produktivitas.
“Begitu cintanya Presiden kepada rakyat. Harga pupuk turun sampai 20 persen dan ini belum pernah terjadi sebelumnya,” ujar Amran.
Amran pun mendorong seluruh pihak bersama-sama bekerja keras mewujudkan kemandirian nasional di berbagai sektor strategis di samping kemandirian pangan.
“Kita harus bekerja keras mewujudkan kemandirian energi, kemandirian protein, dan kemandirian pangan. Jika semua ini terwujud, Indonesia akan jauh lebih aman. Negara ini milik bersama dan akan kita wariskan kepada anak cucu kita,” tegasnya.
Ketua Dewan Pakar DPP Pemuda Tani Indonesia, Bayu Dwi Apri Nugroho menjelaskan konflik global justru dapat menjadi momentum mempercepat kemandirian pangan nasional.
“Kalau konflik ini terus berlanjut, mungkin nanti akan berpengaruh. Tetapi sisi positifnya, Indonesia didorong untuk lebih cepat mencapai swasembada pangan,” ujarnya.
Ia menerangkan sejumlah program pemerintah sebenarnya sudah mengarah pada penguatan produksi pangan nasional. Program tersebut antara lain optimalisasi lahan, cetak sawah baru, serta modernisasi pertanian melalui mekanisasi.
Selaras dengan itu, masyarakat juga dapat memanfaatkan lahan kosong untuk menanam sayuran secara mandiri, termasuk dengan metode hidroponik. Kebiasaan menanam sendiri dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.
“Ketahanan pangan harus dimulai dari rumah tangga, kemudian RT, desa, hingga tingkat nasional,” pungkasnya.
