Oleh : Abdul Razak )*
Komitmen Indonesia dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pemenuhan gizi masyarakat semakin mendapat perhatian di tingkat internasional. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program prioritas nasional kini juga diperkenalkan sebagai bagian dari diplomasi kesehatan Indonesia dalam forum global, termasuk pada rangkaian kegiatan Sidang Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (Dewan HAM PBB) Sesi ke-61 di Jenewa, Swiss.
Pemerintah Indonesia mengangkat program MBG dalam sebuah side event bertajuk Program Makan Bergizi Gratis di Indonesia: Investasi Berbasis Hak Asasi Manusia yang diselenggarakan di Markas Besar PBB, Jenewa. Forum ini menjadi sarana bagi Indonesia untuk menunjukkan bahwa kebijakan pemenuhan gizi tidak hanya berdimensi kesehatan, tetapi juga merupakan bagian dari pemajuan hak asasi manusia.
Kegiatan di Jenewa ini juga menghadirkan sejumlah panelis internasional, di antaranya perwakilan dari Food and Agriculture Organization (FAO), World Food Programme (WFP), serta perwakilan tetap Prancis, Kuba, dan Finlandia untuk PBB di Jenewa. Diskusi tersebut dihadiri oleh berbagai delegasi negara dan organisasi masyarakat sipil yang membahas penguatan hak atas pangan sebagai bagian dari pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
Direktur Jenderal Pelayanan dan Kepatuhan HAM Kementerian Hukum dan HAM, Munafrizal Manan, menjelaskan bahwa hingga Maret 2026 program MBG telah menjangkau sekitar 61,6 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia. Penerima manfaat tersebut meliputi anak sekolah, balita, serta ibu hamil dan menyusui yang dilayani melalui lebih dari 24.000 fasilitas layanan di berbagai daerah.
Program MBG dirancang untuk meningkatkan status gizi generasi saat ini sekaligus mempersiapkan generasi masa depan yang lebih sehat dan produktif. Ia menilai pemenuhan gizi yang memadai akan berkontribusi langsung terhadap peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah dan produktivitas masyarakat dalam jangka panjang.
Selain memberikan dampak pada sektor kesehatan dan pendidikan, program ini juga membawa manfaat ekonomi yang luas. Implementasi MBG telah menciptakan lebih dari satu juta lapangan kerja dan melibatkan sekitar 35.000 pemasok pangan di berbagai daerah. Pemasok tersebut terdiri dari koperasi serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi bagian penting dalam rantai pasok program.
Program MBG juga memiliki dimensi penting dalam pemajuan hak asasi manusia, khususnya terkait pemenuhan hak atas pangan, kesehatan, pendidikan, jaminan sosial, serta standar hidup yang layak. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa kebijakan pembangunan sosial dapat menjadi instrumen efektif dalam memperkuat kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.
Implementasi program MBG juga mendapat dukungan dari berbagai elemen masyarakat. Ketua Umum Asosiasi Dapur Mandiri Indonesia (ADMIN), Bambang Purnomo Edi, menegaskan bahwa program MBG bukan sekadar pembagian makanan, melainkan sebuah ekosistem ekonomi kerakyatan yang terstruktur. ADMIN melihat bahwa program MBG mampu menghidupkan aktivitas ekonomi masyarakat di berbagai daerah. Program ini dinilai mampu menyerap tenaga kerja lokal sekaligus memberikan kepastian pasar bagi petani, peternak, serta pelaku usaha pangan skala kecil.
Bambang menyoroti dinamika opini yang berkembang di media sosial terkait implementasi program MBG. Menurutnya, tidak semua informasi yang beredar mencerminkan kondisi di lapangan. Bambang menilai program MBG justru menjadi salah satu penggerak ekonomi rakyat karena melibatkan banyak pelaku usaha lokal dalam rantai pasok pangan. Bambang mengajak masyarakat untuk tetap optimis dan tidak mudah terpengaruh oleh konten yang menyudutkan program secara keseluruhan hanya berdasarkan kasus-kasus tunggal. Ia menilai langkah penertiban yang dilakukan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) terhadap unit pelayanan yang tidak memenuhi standar operasional justru menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mengawasi pelaksanaan program.
ADMIN saat ini berkoordinasi dengan BGN untuk memastikan lebih dari 1.200 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berada di bawah naungan organisasi tersebut dapat beroperasi secara patuh, bersih, dan profesional. Pihaknya berkomitmen untuk menjaga kualitas dan transparansi dalam setiap porsi makanan yang disajikan kepada masyarakat.
Dampak ekonomi program MBG juga terlihat jelas di berbagai daerah. Permintaan bahan pangan untuk kebutuhan dapur produksi program tersebut mendorong peningkatan aktivitas ekonomi pada sektor pertanian, perikanan, serta UMKM. Kondisi ini membuat banyak pelaku usaha lokal mendapatkan tambahan permintaan dalam jumlah besar. Petani, peternak, dan nelayan pun terdorong untuk meningkatkan kapasitas produksi mereka guna memenuhi kebutuhan bahan baku bagi dapur MBG.
Di Kota Serang, Banten, dampak ekonomi program ini bahkan dinilai sangat signifikan. Wakil Wali Kota Serang, Nur Agis Aulia, menyampaikan bahwa keberadaan dapur MBG telah memberikan perputaran ekonomi yang besar bagi daerah tersebut. Saat ini terdapat sekitar 80 hingga 90 dapur MBG yang beroperasi di Kota Serang. Aktivitas dapur tersebut memicu perputaran ekonomi hingga mencapai sekitar Rp100 miliar setiap bulan atau hampir Rp1,2 triliun dalam satu tahun.
Ini berdampak sangat besar bagi perekonomian daerah karena banyak UMKM serta pelaku usaha lokal yang menerima pesanan dalam jumlah besar. Bahkan sejumlah produsen makanan mengalami lonjakan permintaan yang signifikan sejak program MBG berjalan. Dengan pendekatan yang menggabungkan aspek kesehatan, pembangunan ekonomi, dan diplomasi internasional, program Makan Bergizi Gratis menunjukkan bahwa kebijakan sosial dapat menjadi instrumen strategis untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia sekaligus memperluas peran Indonesia dalam agenda pembangunan global.
)* Penulis adalah seorang Analis Kebijakan
