Sekolah Garuda Usung Arah Baru Pendidikan Talenta Sains Nasional

Oleh : Antonius Googie)*

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) memastikan empat SMA Unggul Garuda baru akan mulai beroperasi pada Tahun Ajaran 2026/2027 atau Juni mendatang. Program ini digadang sebagai lompatan strategis dalam membangun ekosistem talenta sains dan teknologi nasional sekaligus memperluas akses pendidikan unggul ke luar Pulau Jawa.

Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek, Ahmad Najib Burhani, menyampaikan bahwa pembangunan empat sekolah tersebut tengah dikebut dan ditargetkan rampung pada Juni 2026. Ia menjelaskan proses konstruksi melibatkan tiga BUMN karya dan menjadi bagian dari kontrak kerja yang harus dituntaskan tepat waktu. Najib menegaskan bahwa pemerintah optimistis proyek ini selesai sesuai jadwal dan meminta publik tidak meragukan komitmen tersebut.

Empat lokasi perdana Sekolah Garuda berada di Belitung Timur (Kepulauan Bangka Belitung), Soe di Kabupaten Timor Tengah Selatan (Nusa Tenggara Timur), Konawe Selatan (Sulawesi Tenggara), serta Tanjung Selor di Kabupaten Bulungan (Kalimantan Utara). Setiap sekolah berdiri di atas lahan sekitar 20 hektare dengan fasilitas lengkap, mulai dari ruang kelas modern, laboratorium sains, asrama siswa, rumah dinas guru, hingga sarana penunjang seperti taman dan lapangan olahraga.

Sekolah Garuda dirancang sebagai SMA berasrama dengan penguatan kurikulum prauniversitas berbasis pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics). Lulusan sekolah ini diproyeksikan mampu bersaing untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi top dunia, baik di dalam maupun luar negeri. Hingga 2029, pemerintah menargetkan pembangunan sedikitnya 20 Sekolah Garuda di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Mempawah, Rejang Lebong, Manokwari, Merauke, dan sejumlah titik di Maluku.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, menyatakan Sekolah Garuda merupakan realisasi visi besar Presiden Prabowo Subianto untuk membawa anak-anak Indonesia dari seluruh pelosok negeri menuju kampus terbaik dunia. Stella menuturkan bahwa Sekolah Garuda menjadi cara pemerintah memperluas akses pendidikan unggul yang inklusif sekaligus meracik talenta sains dan teknologi dari anak-anak berprestasi di berbagai daerah.

Model pendidikan Sekolah Garuda mengusung empat kurikulum sekaligus. Pertama, kurikulum nasional sebagai fondasi akademik utama. Kedua, kurikulum karakter untuk membangun kepemimpinan dan integritas. Ketiga, kurikulum STEM sebagai penguatan kompetensi sains dan teknologi. Keempat, kurikulum internasional atau global, termasuk International Baccalaureate (IB), untuk memperluas daya saing global peserta didik.

Najib menjelaskan penguatan STEM menjadi alasan utama pendirian Sekolah Garuda. Ia menilai kebutuhan tenaga ahli sains dan teknologi di Indonesia sangat tinggi untuk mendukung agenda industrialisasi dan hilirisasi, sementara lulusan perguruan tinggi nasional belum didominasi bidang STEM. Menurutnya, ekosistem penguatan talenta harus dimulai sejak jenjang SMA agar suplai sumber daya manusia unggul lebih terstruktur dan berkelanjutan.

Lebih jauh, Najib memperkenalkan konsep the one percent rule sebagai landasan kebijakan Sekolah Garuda. Ia memaparkan bahwa negara perlu memfasilitasi sekitar 1 persen siswa dengan kemampuan sangat unggul atau jenius yang selama ini belum mendapatkan dukungan optimal. Najib menyebut bahwa ketika berbicara inklusivitas, perhatian sering tertuju pada kelompok rentan dan difabel, padahal ada kelompok kecil anak berbakat dengan potensi besar yang juga membutuhkan layanan pendidikan khusus.

Konsep ini ditegaskan berbeda dengan program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) yang pernah dibatalkan Mahkamah Konstitusi. Tim Aspek Akademik SMA Unggul Garuda Kemdiktisaintek, Vira Agustina, menjelaskan bahwa Sekolah Garuda dirancang khusus bagi siswa dengan kemampuan akademik istimewa atau anak gifted, yang secara umum memiliki IQ di atas 130 dan populasi sekitar 2,2 hingga 5 persen dari total global. Vira menuturkan negara berupaya menghadirkan berbagai menu pendidikan sesuai kebutuhan anak, termasuk layanan khusus bagi kelompok kecil siswa berkemampuan istimewa.

Ia menegaskan Sekolah Garuda bukan rebranding RSBI. Menurut Vira, karakteristik, konsep, dan implementasinya berbeda. Sekolah Garuda didanai penuh oleh negara, tersebar di berbagai daerah, serta membuka akses bagi siswa dari keluarga menengah ke bawah, termasuk lulusan paket B dan homeschooling, selama memenuhi persyaratan akademik.

Direktur Strategi dan Sistem Pembelajaran Transformatif Kemdiktisaintek, Ardi Findyartini, menjelaskan tahapan seleksi meliputi pendaftaran administrasi, tes potensi akademik dan mata pelajaran inti, wawancara, hingga tes kesehatan. Ia menyebutkan hingga pertengahan Februari 2026, sekitar 1.100 calon siswa telah masuk ke sistem pendaftaran dan menyelesaikan proses administrasi.

Dengan pendekatan terintegrasi, pembelajaran berbasis asrama, serta kurikulum nasional dan global yang dikombinasikan, Sekolah Garuda diposisikan sebagai laboratorium kebijakan manajemen talenta nasional. Di tengah tuntutan transformasi ekonomi berbasis pengetahuan, sekolah ini menjadi simbol arah baru pendidikan Indonesia: memadukan pemerataan akses, penguatan karakter, dan akselerasi talenta sains demi daya saing global yang berkelanjutan.

)* Pengamat Pendidikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *