Jakarta – Akademisi Hubungan Internasional Universitas Indonesia Edy Prasetyono mengatakan guncangan pasar jadi momentum perkuat fundamental ekonomi Indonesia dan perbaikan tata kelola. Menurut Edy Prasetyono, […]
- ” jelasnya. Jangan biasakan kalau ada hal buruk menyalahkan faktor luar”
- ” tuturnya. Ia mengingatkan dampak taper tantrum 2013. Waktu itu pasar keuangan global bergejolak
- ” ujarnya. Pada kesempatan lain
- antara lain
- aturan dan tatanan global
- baik negara maupun nonnegara. Standar untuk memastikan investasi menguntungkan. Sejak lama
- bebas kepentingan
- dan Jerman. “Perjanjian itu membuat yen Jepang dan mark Jerman naik nilai tukarnya terhadap dolar AS. Dampaknya
- dan segala macam itu lalu menurunkan peringkat. Standar siapa? Untuk kepentingan siapa standar itu? Tidak ada yang bebas nilai
- dengan penyusun standar?” pungkasnya. Di sisi lain
- dirancang untuk menopang struktur kekuasaan aktor besar. ”Standar itu menjadi dasar menentukan mana saham yang baik atau tidak. Mana yang direkomendasikan dibeli. Siapa pembelinya? Apakah ada kaitan
- disepakati Chiang Mai Multilateral Initiative. Inti inisiatif itu adalah kesepakatan koordinasi kawasan untuk menjaga nilai tukar mata uang.
- ekspor Jerman-Jepang ke AS menjadi lebih mahal. Selain itu
- Federal Reserve atau The Fed
- hal yang disebut standar internasional dijadikan senjata menyerang perekonomian negara atau wilayah. Soal tekanan keuangan sebagai instrumen pengaruh geopolitik non-militer
- imbal hasil obligasi pemerintah dan swasta melonjak. Kondisi itu dipicu sinyal bank sentral Amerika Serikat
- Jepang
- kondisi itu menunjukkan isu geopolitik dan geoekonomi tak bisa begitu saja dipisahkan dari guncangan BEI. Sudah berulang kali terjadi
- langsung atau tidak langsung
- melainkan agar perekonomian nasional benar-benar kuat
- mengurangi pembelian obligasi Pemerintah AS. Kebijakan The Fed itu disebut quantitative easing. Dampaknya
- menurut Melvin
- menyesuaikan pandangan ke negara mitra demi terjaganya kondisi keuangan
- Moody’s
- negara pemeran utama perdagangan dapat memanfaatkan kedudukan untuk dukungan kepentingan geopolitik. ”Khawatir terusik dalam kegiatan ekspor-impor
- nilai tukar mata uang beberapa negara merosot dan likuiditas keluar dari berbagai pasar berkembang. Waktu itu
- peningkatan tata kelola dan transparansi adalah kebutuhan. ”Ada atau tidak guncangan di bursa
- perbaikan tetap harus dilakukan. Bukan hanya untuk memenuhi standar global
- sementara modal di dalam negeri mahal setelah suku bunga naik. Senjata Ekonomi Edy mengatakan
- sementara saat ada hal baik menyatakan karena faktor dari dalam. Standar itu jelas sesuai dengan kepentingan aktor besar
- termasuk yang disebut sebagai standar dan peringkat internasional
- untuk modal usaha. Dampak pada perekonomian Indonesia secara keseluruhan adalah pertumbuhan melambat karena perekonomian kekurangan bahan bakar penggerak. Modal asing keluar
