Jakarta – Direktur Eksekutif JAKATARUB (Jaringan Kerja Antar Umat Beragama), Wawan Gunawan, mengajak generasi muda untuk menjadi garda terdepan dalam merawat toleransi dan menjaga kondusivitas […]
- ” katanya. Ia menambahkan bahwa penguatan kesabaran dan kelembutan jiwa harus tercermin dalam perilaku sosial sehari-hari
- ” tegas Kang Wawan. Ia menekankan pentingnya literasi digital
- ” tutupnya. Sikap ini
- ” ujarnya. Ia menilai
- atau ada hal yang tidak disukai
- bangun percakapan-percakapan yang membuat hidup lebih indah. Bangun percakapan-percakapan di media sosial yang membuat hidup kita semakin damai. Jadi
- bukan ancaman. Ia menyebut generasi saat ini sebagai generasi yang lahir dan tumbuh bersama gawai serta media sosial
- bukan hanya ritual keagamaan tahunan
- dan harus diselesaikan secara musyawarah
- dan kita tidak boleh menutup mata akan hal itu
- dan reaktif. “Menurut saya
- dan tanggung jawab moral dalam setiap unggahan maupun interaksi daring. Lebih jauh
- diskriminatif
- etika komunikasi
- gitu
- gitu. Jadi kalau ada sesuatu yang memprovokasi kita
- gitu. Nah
- ia mendorong seluruh elemen masyarakat
- Jakarta – Direktur Eksekutif JAKATARUB (Jaringan Kerja Antar Umat Beragama)
- jangan membangun narasi kata-kata bahasa yang tidak baik
- karakter generasi muda yang lekat dengan teknologi digital harus dipandang sebagai kekuatan
- khususnya generasi muda
- kita bertambah halus jiwanya
- kita tidak boleh melakukan kekerasan
- melainkan juga pengendalian diri dari sikap agresif
- melainkan juga ruang strategis untuk memperkuat etika publik dan solidaritas kebangsaan. Dalam konteks itu
- mengajak generasi muda untuk menjadi garda terdepan dalam merawat toleransi dan menjaga kondusivitas selama bulan Ramadan. Ia menegaskan bahwa semangat keberagaman harus terus diperkuat
- menurutnya
- pelarangan acara keagamaan
- Ramadan diharapkan menjadi momentum konsolidasi nilai-nilai toleransi serta penguatan persatuan di tengah keberagaman Indonesia.
- sehingga memiliki kapasitas besar dalam membentuk opini publik. “Kalau generasi saya kan pendatang di media sosial itu. Kalau anak-anak generasi muda itu begitu lahir sudah punya gadget
- sejalan dengan komitmen pemerintah dalam memperkuat moderasi beragama dan menjaga stabilitas nasional. Dengan sinergitas antar umat beragama
- sikap abai terhadap persoalan tersebut justru berpotensi memperlebar ruang polarisasi dan memperlemah kohesi sosial. Karena itu
- teman-teman yang berpuasa harus kembali pada makna hakiki puasa
- termasuk dalam merespons perbedaan. “Kita harus bertambah sabar
- terutama di tengah dinamika sosial yang masih menyisakan sejumlah persoalan intoleransi di berbagai daerah. Momentum Ramadan
- tidak boleh diskriminatif
- tidak langsung menghakimi
- untuk tidak terjebak dalam narasi provokatif yang menyangkut isu SARA dan berpotensi merusak harmoni. Menurut Wawan
- Wawan berharap Ramadan menjadi bulan yang penuh berkah dan kebaikan bagi seluruh masyarakat Indonesia tanpa terkecuali. Ia menilai esensi puasa tidak berhenti pada menahan lapar dan dahaga
- Wawan Gunawan
- yaitu menahan diri dari nafsu
