Jakarta — Guncangan yang terjadi di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam beberapa waktu terakhir dinilai tidak semata-mata mencerminkan volatilitas jangka pendek pasar keuangan. Sejumlah kalangan […]
- ” kata Edy. Ia menjelaskan
- ” ujar Edy. Ia menilai gejolak di BEI tidak dapat dipandang semata sebagai peristiwa teknis pasar modal. Penilaian lembaga asing seperti MSCI dan Moody’s
- ” ujarnya. Dengan demikian
- 11 persen. Di sisi fiskal
- 39 persen pada kuartal IV-2025
- bebas kepentingan
- dan segala macam itu lalu menurunkan peringkat. Standar siapa? Untuk kepentingan siapa standar itu? Tidak ada yang bebas nilai
- defisit anggaran tetap berada di bawah 3 persen terhadap PDB
- dengan penyusun standar?” ujarnya. Meski demikian
- dengan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 mencapai 5
- Edy Prasetyono
- guncangan pasar dinilai dapat menjadi momentum reflektif untuk mempercepat reformasi tata kelola ekonomi
- kami yakin perkembangan kebijakan dan kerangka kelembagaan yang telah dan sedang diimplementasikan akan menjawab kekhawatiran yang disampaikan
- langsung atau tidak langsung
- mana yang direkomendasikan dibeli. Siapa pembelinya? Apakah ada kaitan
- melainkan agar perekonomian nasional benar-benar kuat
- memperkuat kepercayaan publik
- mengatakan bahwa guncangan pasar harus dibaca sebagai pengingat perlunya peningkatan tata kelola dan transparansi ekonomi. Menurut dia
- menggunakan standar global yang tidak sepenuhnya netral. “Guncangan ini terjadi karena ada lembaga asing menyatakan Indonesia tidak sesuai dengan standar. MSCI
- menurut Edy
- Moody’s
- penguatan fundamental merupakan agenda jangka panjang yang tidak bergantung pada situasi pasar sesaat. “Ada atau tidak guncangan di bursa
- perbaikan tetap harus dilakukan. Bukan hanya untuk memenuhi standar global
- serta memastikan fondasi ekonomi nasional semakin tangguh menghadapi dinamika global. (*)
- standar dan peringkat internasional kerap menjadi rujukan utama dalam menentukan rekomendasi investasi
- termasuk penilaian atas saham tertentu. “Standar itu menjadi dasar menentukan mana saham yang baik atau tidak
- tertinggi sejak pandemi Covid-19
- yang memengaruhi peringkat maupun outlook
