Oleh: Andika Hidayatullah )* Bulan Ramadan selalu hadir sebagai ruang kontemplasi sekaligus momentum penguatan nilai-nilai kebajikan dalam kehidupan bermasyarakat. Di tengah keragaman Indonesia yang majemuk, […]
- dalam beberapa tahun terakhir
- dan dorongan untuk menghakimi. Dalam kehidupan sosial
- dan keteladanan. Generasi muda
- dan musyawarah. Jika setiap individu mampu menahan diri dari tindakan diskriminatif dan kekerasan
- dan pemerintah perlu berjalan beriringan dalam membangun ekosistem sosial yang sehat. Ramadan menghadirkan peluang untuk memperkuat kohesi sosial melalui praktik kesabaran
- dialog
- dinamika sosial-ekonomi yang menyertai Ramadan juga memerlukan pengelolaan yang bijak agar tidak memicu gesekan horizontal. Lonjakan aktivitas ekonomi
- empati
- hingga meningkatnya interaksi di ruang publik berpotensi menimbulkan salah paham apabila tidak disertai sikap saling menghormati. Dalam situasi seperti ini
- kedewasaan kolektif diuji
- komunitas lokal
- maka harmoni sosial bukanlah utopia. Momentum ini semestinya dimanfaatkan untuk menegaskan kembali bahwa keberagaman adalah anugerah yang harus dirawat bersama. Dengan komitmen kolektif tersebut
- masyarakat sipil
- melainkan bangsa yang mampu mengelola perbedaan secara beradab. Tantangan intoleransi dan disinformasi harus dijawab dengan pendidikan
- melainkan juga sebagai arena sosial untuk memperteguh komitmen kebangsaan. Tantangannya
- melainkan sebagai momentum memperluas solidaritas sosial. Ketika umat Islam menjalankan ibadah dengan khusyuk
- melainkan tanggung jawab kolektif seluruh elemen masyarakat. Direktur Eksekutif JAKATARUB (Jaringan Kerja Antar Umat Beragama)
- menghormati waktu ibadah
- menjaga ketertiban dan harmoni selama Ramadan bukan sekadar tugas aparatur negara
- menurutnya
- mereka memiliki kapasitas besar dalam membentuk opini dan arah percakapan publik. Wawan berpandangan bahwa anak muda seharusnya menjadi penggerak percakapan yang meneduhkan
- mobilitas masyarakat
- pada saat yang sama mereka juga memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan lingkungan sosial tetap inklusif dan ramah bagi semua. Lebih jauh
- pengawasan terhadap penyebaran hoaks
- pengendalian diri tercermin pada sikap tidak reaktif terhadap provokasi serta komitmen menyelesaikan perbedaan melalui dialog dan musyawarah. Jika nilai-nilai ini dilakukan secara konsisten
- penguatan peran tokoh agama
- penyelesaian konflik secara musyawarah
- prasangka
- Ramadan dapat menjadi tonggak penguatan persatuan dan stabilitas Indonesia di tengah dinamika zaman yang terus berubah. *) Aktivis Dialog Lintas Iman
- Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai praktik ibadah personal
- regulasi semata tidak akan efektif tanpa kesadaran sipil yang matang. Masyarakat perlu membangun budaya saling menghormati dan empati
- ruang publik kerap diwarnai dinamika intoleransi dan polarisasi yang berpotensi mengganggu kondusivitas. Karena itu
- sementara dimensi batiniah menuntut kemampuan menahan amarah
- serta memilih jalan dialog dalam menyikapi perbedaan
- serta menghindari tindakan yang berlebihan menjadi bagian dari etika sosial yang sejalan dengan semangat Ramadan. Namun
- terutama dalam menyikapi perbedaan praktik keagamaan maupun preferensi sosial. Menjaga ketertiban
- terutama melalui media sosial. Wawan menilai masyarakat harus lebih waspada terhadap pola komunikasi yang bersifat provokatif dan destruktif. Ia menekankan bahwa literasi digital bukan lagi pilihan
- terutama terhadap kelompok yang berbeda keyakinan. Ramadan seharusnya tidak dipahami secara eksklusif
- tokoh agama
- Wawan Gunawan
