Oleh : Astrid Widia )* Ketika ketidakpastian global masih menjadi bayang-bayang bagi banyak negara, Indonesia justru memperlihatkan daya tahan ekonomi yang tidak bisa dipandang sebelah […]
- 11 persen
- 4 hingga 5
- 6 persen. Target ini bukan ambisi kosong
- adaptif
- Airlangga Hartarto
- arah kebijakan ekonomi Indonesia menunjukkan konsistensi pada keseimbangan antara stabilitas makro dan transformasi struktural. Pendekatan ini bukan sekadar strategi jangka pendek
- bahkan melihat prospek ekonomi Indonesia tetap cerah meski dunia dilanda tekanan ketidakpastian. Menurutnya
- bahwa Indonesia tidak alergi terhadap dinamika
- dan kerap mencerminkan kepentingan aktor ekonomi besar. Dalam konteks itu
- dan tahan terhadap tekanan eksternal. Dalam beberapa tahun terakhir
- dinamika tersebut justru mempertegas satu hal penting: fondasi ekonomi nasional tetap kuat
- Edy Prasetyono
- ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh sekitar 5
- hingga penguatan sektor riil. Optimisme serupa disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian
- Indonesia justru memperlihatkan daya tahan ekonomi yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Koreksi yang sempat terjadi di Bursa Efek Indonesia memang menimbulkan perhatian
- Indonesia tidak hanya akan mampu bertahan dari guncangan global
- investasi swasta
- kekuatan ekonomi Indonesia hari ini bukan sekadar hasil dari kondisi eksternal yang kebetulan menguntungkan. Ia adalah produk dari sinergi kebijakan
- kekuatan permintaan domestik menjadi penopang utama pertumbuhan
- melainkan bagian dari desain besar untuk memperkokoh fondasi ekonomi sekaligus menjaga momentum pertumbuhan. Hasilnya terlihat nyata. Di tengah perlambatan global
- melainkan dari orkestrasi kebijakan fiskal
- melainkan ditopang oleh sinergi belanja negara
- melainkan realitas yang sedang dibangun. )* Penulis adalah pengamat kebijakan publik
- memperkuat pengawasan pasar
- menilai peningkatan transparansi dan tata kelola merupakan kebutuhan strategis jangka panjang. Menurutnya
- Mervin Goklas Hamonangan
- misalnya
- namun alih-alih menjadi sinyal pelemahan
- narasi tentang ketahanan ekonomi Indonesia bukan lagi sekadar optimisme
- negara berkembang seperti Indonesia perlu memiliki strategi mandiri agar tidak terlalu rentan terhadap perubahan persepsi global. Pandangan tersebut sejalan dengan analisis Peneliti LPEM FEB UI
- Oleh : Astrid Widia )* Ketika ketidakpastian global masih menjadi bayang-bayang bagi banyak negara
- optimisme ekonomi pun mendapatkan landasan yang konkret. Pada akhirnya
- pembenahan sistem ekonomi harus tetap berjalan terlepas dari ada atau tidaknya guncangan pasar
- pemerintah menargetkan pertumbuhan di kisaran 5
- Purbaya Yudhi Sadewa
- reformasi struktural
- sebuah faktor penting mengingat struktur ekonomi Indonesia bertumpu pada permintaan domestik. Stabilitas harga dan meningkatnya mobilitas masyarakat turut menjaga ritme pertumbuhan
- sektor keuangan
- sementara kebijakan fiskal berperan menjaga aktivitas ekonomi tetap bergerak. Sinergi dengan sektor keuangan juga memastikan pembiayaan dunia usaha terjaga
- sementara pemerintah terus bergerak memperbaiki tata kelola agar sistem ekonomi semakin transparan
- serta komitmen pemerintah menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas. Koreksi pasar justru memperlihatkan kedewasaan ekonomi nasional
- serta memastikan kepastian investasi. Perbaikan iklim investasi domestik bukan hanya soal menarik modal asing
- terutama pada periode libur dan hari besar keagamaan yang memperkuat perputaran ekonomi. Memasuki 2026
- tetapi juga berpeluang melompat menjadi kekuatan ekonomi yang semakin diperhitungkan. Dengan fondasi domestik yang kuat dan tata kelola yang terus diperbaiki
- tetapi juga membangun kepercayaan investor nasional agar struktur pembiayaan lebih berimbang dan mandiri. Langkah pemerintah menyalurkan stimulus ke sektor perbankan untuk menjaga likuiditas
- tetapi juga motor penciptaan lapangan kerja. Ketika sektor riil bergerak
- tetapi menjadikannya momentum untuk berbenah. Jika konsistensi ini terjaga
- yang melihat fundamental ekonomi nasional terus menunjukkan tren penguatan. Konsumsi rumah tangga yang tumbuh mendekati lima persen menjadi indikator bahwa daya beli masyarakat tetap terjaga
- yang menyoroti kuatnya dominasi aset keuangan global. Ia melihat kebijakan negara maju sering berorientasi domestik tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap negara berkembang
