JAKARTA – Program hilirisasi yang dijalankan pemerintah dinilai telah memasuki fase eksekusi dan mulai memberikan dampak nyata terhadap perekonomian nasional. Kebijakan yang selama ini diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri mulai mendorong pertumbuhan investasi, industrialisasi, serta munculnya pusat-pusat ekonomi baru di luar Pulau Jawa.
Wakil Ketua Umum Bidang Keanggotaan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Widiyanto Saputro, mengatakan keberhasilan hilirisasi nikel menjadi salah satu bukti bahwa industrialisasi berbasis sumber daya alam telah berjalan lebih konkret. Menurutnya, Indonesia mulai meninggalkan pola lama yang terlalu bergantung pada ekspor komoditas mentah
.
“Nilai hilirisasi nikel ini salsah satu yang fenomenal setelah berdekade-dekade kita tidak melaksanakan industrialisasi di bidang sumber daya alam. Nilainya mencapai Rp 510 triliun dengan lonjakan sekitar 300%, dari hampir US$ 1 miliar menjadi US$ 3,8 miliar,” ujar Widiyanto
Ia menegaskan, perkembangan tersebut menunjukkan hilirisasi tidak lagi berhenti pada tataran kebijakan, tetapi telah menghasilkan aktivitas ekonomi dan investasi secara langsung. “Hilirisasi hari ini bukan hanya jargon kebijakan, tetapi sudah ada kisah suksesnya. Ini bukan lagi di tataran wacana bagi pemerintah, tetapi sudah masuk di tataran eksekusi,” katanya.
Perkembangan hilirisasi juga mulai mengubah peta investasi nasional. Menurut Widiyanto, aktivitas industri pengolahan mineral kini berkembang di Maluku Utara, Sulawesi Tengah, hingga Kalimantan. Investasi hilirisasi bauksit di Kalimantan bahkan mencapai Rp 53 triliun pada semester I-2026.
Realisasi investasi hilirisasi nasional pada periode yang sama mencapai Rp 300,1 triliun. Arus investasi tersebut semakin banyak mengarah ke kawasan Maluku Utara, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Barat, sehingga membuka peluang terbentuknya pusat pertumbuhan ekonomi baru di luar Jawa.
Penguatan hilirisasi juga menjadi perhatian pemerintah melalui kolaborasi dengan dunia usaha. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, dalam pertemuan dengan pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam, membahas investasi pertambangan, hilirisasi, agribisnis, energi, dan logistik.
“Pemerintah terus mendorong terciptanya iklim investasi yang sehat dan kondusif serta memperkuat kolaborasi dengan dunia usaha untuk mempercepat hilirisasi, meningkatkan nilai tambah di dalam negeri, dan membuka lebih banyak lapangan kerja,” ujar Seskab.
Langkah tersebut memperlihatkan hilirisasi semakin diarahkan sebagai instrumen strategis untuk memperkuat struktur ekonomi nasional sekaligus memastikan kekayaan sumber daya alam memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat dan daerah.
