Tokoh Adat Sentani Dorong Masyarakat Tak Terpengaruh Provokasi Roma Agreement

SENTANI — Tokoh adat di Kabupaten Jayapura mengajak masyarakat menjaga suasana damai dengan tidak terpengaruh oleh berbagai isu yang mengangkat kembali peristiwa sejarah 30 September 1962 atau Roma Agreement. Masyarakat diharapkan tetap menjalankan aktivitas sehari-hari serta mengedepankan persaudaraan dalam kehidupan bermasyarakat.

Ajakan tersebut disampaikan Ondofolo Kampung Puay Yacob Fiobetauw, Ondofolo Kampung Atamali Septinus Ibo, didampingi Ondofolo Kampung Kwadeware Nikson Marweri, Ondofolo Kampung Yobeh Alberth Felle, dan Tokoh Adat Sentani Barnabas Nukoboi. Para tokoh adat menilai berbagai peristiwa sejarah tetap penting dipahami, tetapi penyikapannya perlu dilakukan secara bijaksana agar tidak menimbulkan persoalan baru.

Yacob Fiobetauw mengatakan masyarakat memiliki kesempatan untuk mengambil pelajaran dari sejarah sekaligus membangun masa depan yang lebih baik. Menurutnya, kehidupan generasi mendatang membutuhkan lingkungan yang aman, tenteram, dan penuh kebersamaan.

“Peristiwa itu adalah sejarah. Jangan pernah kembali ke belakang. Mari kita berpikir ke depan, bagaimana kita hidup ke depan lebih baik,” ujar Yacob dalam konferensi pers di Sentani, Senin (28/9/2026).

Menurut Yacob, Sentani selama ini telah menjadi tempat tinggal bersama bagi masyarakat dari berbagai latar belakang. Kondisi tersebut menjadi alasan penting bagi seluruh elemen masyarakat untuk menjaga hubungan sosial dan menghindari tindakan yang dapat mengganggu ketertiban.

“Kami para ondofolo Sentani sudah menjadikan Sentani sebagai rumah bersama yang didiami oleh semua orang,” tegas Yacob.

Semangat menjaga Sentani sebagai rumah bersama juga menjadi dasar bagi masyarakat untuk menyikapi berbagai informasi secara tenang. Isu sejarah, termasuk Roma Agreement, diharapkan tidak berkembang menjadi ajakan yang dapat mengganggu keamanan masyarakat.

Septinus Ibo secara khusus mengingatkan masyarakat agar berhati-hati menerima informasi mengenai Roma Agreement. Ia meminta warga tidak mengikuti aksi maupun menyebarkan informasi yang dapat memperkeruh situasi di tengah masyarakat.

“Saya menghimbau untuk tetap aman, tenang di rumah dan jangan ikuti aksi apapun serta menyebarkan isu-isu negatif tentang tanggal 30 September, perjanjian di Roma itu,” ujar Septinus.

Ia menambahkan bahwa masyarakat Sentani memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam memahami perjalanan sejarah Papua. Karena itu, masyarakat diharapkan dapat menyikapi informasi secara dewasa dan tidak mudah terbawa oleh ajakan pihak yang tidak bertanggung jawab.

“Orang Sentani yang lebih tahu. Makanya saya minta masyarakat jangan menyebarkan isu-isu provokatif dan melakukan aksi yang mengganggu kamtibmas di Kabupaten Jayapura,” tambah Septinus.

Para tokoh adat juga mengingatkan pentingnya mempertahankan kehidupan masyarakat yang aman dan nyaman. Menurut mereka, perbedaan pandangan mengenai sejarah dapat disikapi tanpa mengorbankan ketenteraman bersama.

“Lupakan itu dan tinggalkan itu dan jadikan itu sebagai sebuah sejarah. Tetapi jangan membuat kekacauan-kekacauan di atas tanah Papua,” pungkas Yacob.

Septinus berharap masyarakat tetap menjaga lingkungan masing-masing dan tidak mengikuti informasi yang dapat membawa kehidupan sosial ke arah negatif.

“Saya mengharapkan kepada siapapun tidak boleh mengikuti perkembangan-perkembangan yang mempengaruhi masyarakat ke arah negatif,” tutup Septinus. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *